KERETA API YANG DAHULU BERAPI API

(Foto: Koleksi Pribadi)

AWAL TAHUN 90 - Di suatu siang yang terik, beberapa siswa nampak berpeluh diwajah, sebahagian masih terlihat belum mengganti seragam putihnya yang berlambang OSIS. Mereka saling berkejaran, berlomba mengayuh sepedanya hingga akhirnya berhenti dan memilih berpisah di depan toko “ SS Motor”, sebuah toko yang menjual oli dan beberapa sparepart kendaraan di sudut simpang empat bundaran jalan Veteran Selatan Mks.

Tampak bangunan Toko SS Motor berkesan kokoh. Semburat coklat pudar mendominasi. Bangunannya tak menyolok. Toko ini berdiri membentuk setengah lingkaran menghadap ke utara dengan arsitektur bercorak karakteristik romansa pecinan Mks tempo doeloe. Umurnya mungkin sudah puluhan tahun bahkan lebih. Letaknya cukup strategis berada di antara ujung jalan Veteran Selatan- Ratulangi-pasar Pabaeng-baeng dan Jl. Kumala. Tempat ini kerap menjadi lokasi pangkalan bagi para tukang becak dan supir pete-pete yang menunggu calon penumpang trayek, Veteran–Kampus di perintis kemerdekaan.

Sekali waktu, pemiliknya menuturkan, nama SS yg melekat di tokonya itu berarti ‘suka sama suka’. Pesannya singkat dan mudah diingat. Seolah menitip harapan kepada setiap orang yang datang berbelanja ditempatnya itu agar selalu suka dan senang dengan pelayanan toko Nama ibarat doa, cerminan ideologi harapan yang terwakili dari sang empunya. Nama toko yang simpel. Pemilik toko tersebut boleh jadi tak suka dengan nama yg ribet. ‘Apalah arti sebuah nama’, toh pada akhirnya sekuntum mawar tetap menyerbakkan harumnya meski namanya di gonta-ganti.

Entah secara kebetulan atau tidak, tak jauh dari toko itu, ada satu cerita 'to riolo' dari beberapa painung (peminum) kopi, warga senior to towayya yg kerap nongkrong disana menyebutkan, bahwa muasal inisial SS itu ada kecocokan juga mengenai sejarah sebuah SS (Staats Spoorwegen) dimana SS ini adalah sebutan orang belanda saat itu untuk sebuah perusahaan Jawatan Kereta Api milik Hindia Belanda yang pernah beroperasi di Makassar saat jaman penjajahan Belanda, dimana bekas lokasi stasiun kereta tersebut berdiri tak jauh dari toko SS Veteran tersebut.

***
Syahdan, sejarah meriwayatkan nun jauh sebelum  luas kota Ujung Pandang masih sepelemparan batu, saat jalan Gunung Bawakaraeng Mks membentang tanpa hambatan hingga sampai ke Daya masih bernama Jalan Maros (Maros Weg), suasana kota Makassar masih hidup berkelompok dan berumpun rumpun, terdiri dari pelbagai kampung kampung etnis antara lain kampung Buton di pesisir pantai (sekarang pasar Butung), kampung Balanda didekat kampung Buton, yang sekarang disebut jalan Riburane, dan Sawerigading, Bongaya di sekitaran Jalan Kumala, Kampung Pecinan di area jalan Bali dan sekitarnya, Kampung Melayu di seputaran jalan Diponegoro, kampung Paotere serta beberapa lagi yang lainnya.

Karena daerah pasar Butung merupakan jalur strategis dipinggir pantai, yaitu jalur segitiga emas pintu masuk ekonomi perdagangan sehingga atas kebijakan pemerintah waktu itu yang bernama J. E Dambrink, seorang calon walikota Makassar pertama yang juga berkebangsaan Belanda, Ia berinisiatif membangun beberapa sarana penunjang seperti gedung sekolah, gedung kesenian, rumah ibadah dan juga stasiun kereta api pertama di Makassar untuk memperlancar roda pembangunan. Akhirnya Stasiun pertama kereta api pun dibuat. Di beberapa laman media termasuk wikipedi menyebutkan, pada sekitar juli 1923,  rute rel kereta api di Sulawesi beroperasi dengan menempuh rute sepanjang 47 km menghubungkan kota Makassar- Sungguminasa-Limbung sampai ke Takalar. 

Tujuan awalnya adalah untuk mengangkut hasil bumi tebu di Takalar untuk di kirim ke pabrik gula di pulau Jawa dengan menggunakan kapal laut. Rel-rel kereta api ini tertanam di sepanjang jalan melintasi daerah Bontoala, Maricaya, Jongaya, Parang Tambung yaitu jalan Tentara Pelajar, jalan Ujung, jalan Veteran, Muhammad Tahir dan daeng Tata. Adapun bengkel kereta api saat itu berada di SS (Staats Spoorwegen). SS adalah Sebutan belanda berupa sebutan untuk sebuah jawatan perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda yang dahulu lokasi tak jauh dari jalan Veteran dan sekarangnya sudah menjadi Sekolah teknik Negeri Menengah. Tarif kereta sekali naik waktu itu bervariasi dari 10- 40 sen. Karena target pengiriman tebu tidak terpenuhi dan semakin banyaknya mobil yang masuk ke Makassar, pengoperasian kereta api dianggap sudah tidak menguntungkan dan akhirnya ditutup oleh pemerintah saat itu pada tahun 1930.

***

Sepulang dari menemani si sulung bermain Kereta-Apian di sebuah Mall kawasan Center Point Of Indonesia Tanjung Bunga Mks, saya iseng mencari info terbaru lewat mbah google di henponG mengenai kelanjutan rencana pembangunan proyek perkereta apian di Sulawesi. Di awal tahun 2016 kemarin, sejarah perkereta-apian di Sulawesi telah tertoreh dengan review sebuah video youtube Uji coba perdana di fungsikannya kereta api Sulsel oleh Bapak Gubernur saat itu.

Uji coba ini sekaligus sebagai pengukuhan simbolisasi telah di buatnya sebuah kado proyek prestisius kereta api pertama di luar pulau jawa dan sumatera. Bantalan rel pertama telah terpancang di titik nol kilometer daerah Tanete Rilau kab. Barru. Secara berkesinambungan, hingga akhir tahun 2015, rel sepanjang 16 kilometer diupayakan rampung, kemudian berlanjut ke Pare Pare kurang lebih 145 km dan berikutnya lagi akan dimulai dari Manado dengan target pelesaian jalur rel selesai hingga tahun 2018.

Kehadiran kereta api ini diharapkan akan menjadi primadona baru sebagai moda trasportasi penghubung antar kota dipulau Sulawesi dan menyusul pulau Papua, untuk menjawab kebutuhan prioritas serta solusi atas permasalahan transportasi dan kepadatan lalu lintas.. KA ini digadang gadang sebagai kereta api bertaraf international dengan kemampuan yg melebihi KA yg ada dipulau jawa dan Sumatera. Dengan kecepatan yang bisa mencapai sekitar 200km/jam, kereta ini akan menyinggahi 23 stasiun kereta api di setiap daerah yang dilewati. Rel kereta lebih lebar serta bantalan rel yang lebih berat dari KA yg sudah ada di Indonesia. Dengan menggunakan sistem double track untuk mengangkut barang dan manusia, diharapkan  transportasi kedepannya akan menjadi satu pilihan transportasi umum yang tepat, cepat, aman dan murah.

Sebuah kalimat bijak menyebutkan 'Negara maju bukanlah negara tempat orang miskin mengendarai mobil, Ia adalah tempat orang kaya yg memanfaatkan transportasi publik'. Kalimat ini bisa jadi relevan jika di kondisikan dengan situasi tempat atau kota yang tingkat kemacetannya sudah mulai di keluhkan oleh masyarakatnya sendiri.

Seorang kawan yang bermukim di Jepang pernah bercerita, saat masih bersekolah dan berangkat bekerja dengan menggunakan kereta cepat atau dijepang disebut dgn nama Shinkansen. Ber-kereta bagi mereka adalah suatu aktifitas masyarakat yang sudah lazim untuk melakukan aktifitas keseharian, salah satunya dengan pulang pergi dari tempat kerja. Dengan kecepatan shinkansen yang berkisar 300km/jam, jarak tak lagi menjadi masalah bagi mereka yang telah terbiasa memegang prinsip kedisiplinan waktu.

Kabar terakhir menyebutkan, teknologi Shinkansen ini bahkan belum seberapa dibandingkan dengan rencana akan diwujudkannya sebuah kereta berteknologi Maglev (Magnet Levitation) di tahun 2045 mendatang. Teknologi ini digadang gadang akan melampaui kemampuan dari teknologi kereta api yang sudah ada. Maglev akan menjadi teknologi pertama didunia yang dibuat untuk lebih mengefisiensikan jarak tempuh. Konon katanya, saat kereta melaju dengan kekuatan penuh di kecepatan 600 san km/jam, badan kereta terasa melayang tidak berpijak lagi di rel, penumpang tetap dapat melanjutkan tidur tidur pagi, menyalakan gadget dan bercengkrama santai tanpa merasakan goncangan gesekan rel.

Teknologi Shinkansen ini, 'bede', membuat sebahagian besar pekerja Jepang akhirnya memilih untuk pulang pergi tanpa kuatir melanggar disiplin waktu kerja. Rata rata pekerja ada yang datang dari pulau sebelah atau tinggal beratus ratus mil dari tempat kerja tanpa kuatir telat dijam aktifitas. Budaya lingkungan dan teknologi yang mumpuni telah membentuk mereka untuk mencari zona nyaman sendiri dalam menyelesaikan rutinitas perjalanan transportasi. Selain bisa berhemat dengan menghindari biaya hidup di tempat tinggal sewaan, transportasi cepat ini membuat mereka masih bisa tetap berkumpul bersama keluarga dimalam harinya tanpa harus lagi mengeluarkan biaya hidup tambahan untuk tinggal di apartemen/flat sewaan di dekat kantor mereka.

***

(link terkait baca di sini)

Geliat ekonomi transportasi di hampir semua daerah termasuk kota Makassar selalu menunjukkan trend grafik meningkat di akhir pekan. Para penumpang yg umumnya pengguna kendaraan roda empat, baik itu pekerja yang berpisah dari keluarga ataupun masyarakat umum di kota dan daerah silih berganti datang dan pergi memadati terminal-terminal antar daerah di Propinsi Sulselbar. Karena minimnya waktu, sebahagian besar dari pekerja ini akhirnya memilih akhir pekan, merogok kocek di koridor terminal hingga kadang nyaris berdesakan hanya tuk sekedar bisa mendapatkan kursi demi dapat berkumpul menghabiskan waktu bersama diakhir pekan dengan keluarga

Tiga setengah tahunmi berlalu. Memasuki pertengahan tahun 2019, Pemerintah kota propinsi Sulsel melalui nahkoda barunya masih terus berupaya melanjutkan tongkat estafet finishing dari rencana ini. Pengerjaan pemanjangan rel terus digenjot untuk mengejar target penyelesaian kereta api yang katanya sieh di usahakan dapat rampung dan dioperasikan di tahun 2020.

Tentunya, kehadiran kereta api Sulsel ini nantinya diharapkan bisa ikut menambah kontribusi penunjang moda transportasi lama tapi baru yang kembali berapi api, berjaya, ikut mengisi peran dalam pembangunan di masa kini dan akan datang. Dan pada akhirnya, masyarakatlah nanti yang akan menilai serta merasakan langsung, sejauh mana kehadiran kereta api ini memang tak hanya tampil gagah gagahan, tapi betul di butuhkan untuk menunjang aktifitas keseharian, menambah pilihan masyarakat akan moda transportasi murah antar kota selain bus dengan waktu tempuh yang lebih cepat.

Pun, jika nanti target berbicara buruk dan kereta ini tak digandrungi masyarakat, maka yakin saja, tak menutup kemungkinan transportasi ini harus siap menanggung kerugian akibat biaya operasional transportasi. Tapi jikalau baik dan berjalan seperti apa yang di harapkan bersama, tentu kehadiran kereta api di bumi Celebes ini akan melahirkan sebuah ikon baru berupa moda massal baru yang murah dan terjangkau seperti halnya  sarana transportasi kereta api di pulau Jawa dan Sumatera di Indonesia. Aamiin.

Disqus Comments